Kenapa ‘Rika’ dan ‘RiKu’??

Posted in about me.. on November 27th, 2010 by rikak09

Pernah ga kalaian ditanya kenapa nama kalian seperti yang sekarang???

Rika pernah ditanya kenapa orangtua ka ngasih nama rika?? waktu itu kelas 11 ka ditanya gitu sama guru PKN. ka ga bisa jawab. pulangnya, ka tanyain dong perihal pertanyaan tadi ke orangtua ka? kata bapa, ga sengaja nagsih nama RIKA, waktu itu bapa lagi makan di restoran, rus ada orang namanya RIKA,cantiiik bgt. kebetulan mama ka lagi hamil dan lahir anak perempuan langsung dech di kasih nama rika.

Rika sempet sedih juga cee, orang lain namanya mengndung makna tertentu, sedangkan ka ngga.. tapi ga kenapa-kenapa itu nama adlah salah satu pemberian orangtua yang harus kita hargai. dan apakah kalian tau teman-teman????? beberapa hari setelah itu, ka main ke perpustakaan sekolah dan tidak sengaja buka-buka kamus bahasa jepang. trus ka menemukan kata ‘rika’ dalambahasa jepang yang artinya EKSAKTA.. itu nama pas banget buat ka yang suka dengan hitung-hitungan, heheee…. anugerah banget.

kemudian ka lanjutin tuh baca kamus jepangnya, ka nemuin kata ‘riku’ yang artinya ‘laut’.. pas banget kan sama nama ka, Rika KUrnia alias RiKu, heheeeee

Profil

Posted in about me.. on November 27th, 2010 by rikak09

Nama : R ika Kurnia

NIM : G44090011

TTL : Sukabumi, 09 Juni 1991

Alamat asal : Cicurug- Sukabumi, Jawa Barat

Alamat kost : Radar

Email : ikock_thea@yahoo.com

Tokoh Idola :Nabi Muhammad SAW, Quraish Shihab, Dan Brown, B.J Habibie

Motto : Hargailah diri kita untuk sukses dan lakukan yang terbaik terhadap semua yang  ada dihadapan kita

biodata saya…

Posted in Artikel on November 22nd, 2010 by rikak09

Nama saya Rika Kurnia. Teman-teman saya biasa memenggil saya rika atau ikock.mentah kenapa Saya dilahirkan di Sukabumi.

Mengapa masuk Kimia

Posted in Artikel on November 22nd, 2010 by rikak09

Kenapa  masuk kimia????

Ketika diterima USMI di IPB, saya sempat ditanya oleh teman-teman saya di SMA alasan kenapa saya masuk kimia. Mereka heran kenapa saya masuk jurusan kimia, tidak jurusan fisika karena selama yang mereka tahu saya sangat menyukai fisika. Dan memang sebenarnya seperti itu keadaannya. Saya lebih menyukai fisika dari pada kimia. Ketika itu, saya tidak bisa menjawab pertanyaan mereka. Saya hanya tersenyum dan mengatakan ‘mungkin ini sudah takdir’. Namun apa yang saya katakan sebenarnya tidak sesuai dengan apa yang ada dihati.  Hati saya mengatakan, mungkin saya tidak akan masuk kimia jika pilihan pertama saya ketika mendaftar USMI  bukan  kimia. Pertanyaannya sekarang adalah kenapa waktu dulu saya memilih kimia sebagai pilihan yang pertama.

Ketika SMA nilai kimia saya tidak begitu bagus dibandingkan dengan nilai mata pelajaran IPA yang lain. Bahkan ketika kelas sepuluh saya sempat beberapa  kali harus remidial karena nilai ulangan kimia saya dibawah standar kompetisi. Beranjak ke kelas sebelas, nilai kimia saya mulai naik sampai akhirnya di awal kelas tiga saya ditawarkan mengikuti lomba cerdas cermat kimia. Ketiks itu, tanpa pikir panjang saya langsung menerima tawaran tersebut. Saya akui kemamapuan saya dibidang kimia jauh lebih rendah dengan teman-teman yang lain sehingga untuk lomba tersebut saya hanya membantu, hanya sebagai pelengkap.

Lomba pun dimulai dan sampailah kami dalam babak penyisihan. Disitulah chemistry muncul, kami tidak bisa masuk final karena saya salah menjawab pertanyaan yang sangat menentukan.  Bahkan kami sempat bersitegang dengan dosen yang waktu itu menjadi dewan juri dalam  lomba tersebut.  Saya sangat menyesal dan ketika itu saya berjanji suatu saat saya akan menjadi seorang kimiawan untuk menebus kesalahan-kesalahan yang saya lakukan. Sampai akhirnya, formulir USMI pun tiba dan saya memilih kimia sebagai pilihan pertama.

Saya sempat menjadi orang yang tak punya tujuan sebenarnya mau jadi apa saya kelak.  saya baru menyadari bahwa keputusan  saya ketika itu memilih kimia bukanlah keputusan yang beraal dari hati melainkan keputusan yang berasal dari emosi sesaat. Namun, sesal diakhir tiada guna, saya terlanjur masuk KIMIA. Ketika itu saya tak mempunyai semangat belajar  yang kuat tapi untungnya saya masih sadar saya memiliki orang tua yang tak boleh saya kecewakan dan saya berusaha untuk bisa bertahan dalam kondisi seperti itu. Walaupun dengan tertatih-tatih, syukur alhamdulillah saya bisa melewati masa-masa TPB dengan baik. Namun, kondisi TPB sama sekali tidak sama dengan kondisi di departemen. Saya berpikir, jika saya seperti ini terus saya yakin  cepat atau lambat  saya akan jatuh.  Ternyata benar, seingat saya selama saya bersekolah, baru di departemen kimia saya mendapat nilai ujian berkepala empat, dua kali pula. Sejal saat itu, saya mulai belajar banyak tentang kimia dan saya mulai suka dengan kimia. Saya baru menyadari dua hari yang lalu, ketika saya dan temen-teman sekelompok presentasi kimia anorganik yang membahas tentang pengaruh terhadap sifat kimia terhadap sifat fisik suatu logam. Kami pun menjelaskan bagaimana manfaat ilmu kimia dalam menjaga lingkungan agar tidak terjadi pencemaran oleh limbah industri .

Setelah presentasi tersebut, saya baru benar-benar menyadari betapa menariknya ilmu kimia. Ternyata ilmu kimia sangat erat dengan kehidupan kita. Tidak salah jika banyak orang yang bilang ‘kimia adalah kehidupan. Jika menelaah lebih jauh, kita bisa belajar tentang hidup dari kimia.

Itulah sekelumit kisah kenapa saya masuk kimia. Ada sebuah kalimat yang saya ingin sampaikan terkait dengan tulisan  ini. Kalimat ini saya kutip dari sebuah buku motivasi, sayangnya saya lupa siapa pengarangnya. “Ketika kita tidak menyukai suatu hal, jangan mencari-cari alasan kenapa kita tidak bisa menyukainya tetapi  carilah apa yang dapat kita sukai dari darinya.”